Funco Tanipu: Kalah Menang Itu Biasa, Jangan Overdosis Dukung Timnas


<a href=’http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE’ target=’_blank’><img src=’http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a59ecd1b’ border=’0′ alt=” /></a>

Jakarta – Malam nanti pertarungan besar akan terjadi di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta. Kesebelasan Indonesia akan menjamu Malaysia di final leg kedua Piala AFF. Dukungan kepada Tim Garuda mutlak diperlukan, namun jangan sampai overdosis.

“Kalah menang itu biasa, tapi hari-hari ini jadi luar biasa. Kita dukung Timnas dengan
wajar saja, jangan sampai overdosis,” kata sosiolog dari Universitas Negeri Gorontalo, Funco Tanipu .

Berikut ini wawancara detikcom dengan pria yang tengah menempuh pendidikan Doctor of Philosophy di Universitas Indonesia, Rabu (29/12/2010):

Euforia Timnas tengah melanda Indonesia karena prestasi kemenangan yang melejit?

Harus dilacak dalam konteks sosio historis. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan model
patron klien. Sejak zaman Sriwijaya, sejak Gadjah Mada, Soekarno, Soeharto, mereka
cenderung membanggakan eranya. Patron klien yang sifatnya simbolik ini sebenarnya sudah ada sejak dulu. Kini pun masih banyak yang berharap ada patron, tokoh, atau panutan di setiap zaman.

Ketika kekurangan tokoh yang jadi idola, Timnas datang dengan setumpuk nilai. Ada
harapan baru yang sifatnya ekspektatif. Dalam sejarahnya memang ada patron klien,
sehingga hal itu menjadi memori kolektif warga.

Timnas diperlakukan tidak saja sebagai Timnas, tetapi saya rasa sudah berlebihan. Kalah
menang itu biasa, tapi hari-hari ini jadi luar biasa. Kita dukung Timnas dengan wajar
saja, jangan sampai overdosis.

Terlihat overdosis?

Ada beberapa hal yang membuat itu terjadi. Ada faktor pasar, di mana media dan
perusahaan ikut memperkuat hal ini. Pasar itu menggunakan idiom maupun simbol. Misalnya saja iklan yang menggunakan istri salah seorang pemain Timnas untuk produknya. Pasar menggunakan kegairahan ini untuk ikut mendikte warga agar mengkonsumsi apa yang telah disediakan, sehingga ada gairah konsumtif atau perilaku konsumtif.

Lalu media juga ada yang dalam tanda petik turut memprovokasi, sehingga memunculkan gosip. Selain itu ada faktor politiknya juga, ketika ada jamuan makan kepada Timnas oleh salah satu orang dari parpol, dan lainnya. Hal-hal ini menggiring memori kolektif warga tentang patron klien itu.

Meskipun generasinya berbeda tetapi memori kolektif tetap ada?

Di setiap lapis sejarah, memori kolektif tetap ada. Misal tentang tawuran yang
dimanifestasikan menjadi tawuran antar pendukung kesebelasan. Ini bisa terjadi dan mudah terjadi karena ada patron atau institusi yang menggerakkan warga. Di sini mobilisasi juga terjadi. Hal ini terjadi karena masyarakat kita terbiasa diarahkan oleh patron, dan warga membiarkan dirinya jadi klien tanpa sadar.

Media juga institusi sosial seperti parpol menjadikan masyarakat jadi klien. Masyarakat
tidak berdaya dan membiarkan itu terjadi.

Dengan beberapa negara tetangga, kita memiliki tradisi yang hampir mirip. Namun untuk konteks Malaysia dan Singapura, perubahan sosial diikuti perubahan pola pikir. Kalau kita, ketika pertumbuhan terjadi, pola pikir yang lama tetap terpelihara. Hal ini membuat masyarakat rawan dikendalikan oleh patron.

Menurut saya, institusi sosial seperti organisasi keagamaan sebaiknya menginjeksi masyarakat dengan pengetahuan yang sifatnya bisa membangkitkan rasionalisasi di level masyarakat tapi tidak membenturkan yang satu dengan yang lain. Lalu media juga harus mengubah ideologi, jangan diarahkan untuk kepentingan tertentu.

Menjadi euforia karena bosan dengan berbagai isu politik yang muncul?

Masyarakat kita, dalam 10 tahun reformasi terbebani banyaknya krisis. Ada krisis moral, hukum yang tidak selesai-selesai, isu suap yang membayangi Mahkamah Konstitusi (MK), juga soal bencana alam. Tumpukan kasus di level nasional dan lokal membuat frustrasi sehingga mencari hiburan. Hiburannya ya Timnas itu. Padahal tidak signifikan antara Timnas dengan kondisi (yang melanda Indonesia) itu.

Ini sifatnya sementara. Ketika AFF selesai, ya selesai lagi, masyarakat menghadapi realitas sehari-hari lagi.

Bagaimana dengan kerusuhan saat mengantre tiket?

Budaya tidak sabar, instan, maunya cepat masih menjangkiti sebagian warga. Ada sebagian yang tidak mau antre. Ini diperparah dengan manajemen PSSI yang tidak membuat perencanaan dengan baik, fair dan terbuka. Seharusnya jangan sampai perencanaan yang kurang baik ini jadi menghalangi hak-hak warga. Ini harus dilihat dengan arif.

Setelah dikalahkan 0-3 di Malaysia, Timnas Indonesia harus berjuang keras. Bagaimana agar legowo jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan?

Harus meletakkan sepakbola dalam konteks yang rasional. Pertandingan sepakbola itu biasa. Ada proses untuk jadi yang terbaik. Harus dilihat yang rasional. Tidak fair

kalau dibebani dengan sesuatu yang sifatnya terlalu tinggi. Nasionalisme seharusnya diletakkan tidak secara berlebihan.

Maksudnya?

Terjadi eksploitasi hal-hal yang sifatnya simbolik. Misal tentang pemakaian lambang Garuda. Itu oke untuk mendukung Timnas, tapi kadang kesadaran tidak lagi rasional. Seseorang sadar bertindak tapi tidak sadar bahwa sedang didikte.

Nasionalisme jadi didikte, padahal seharusnya dihayati, dimaknai. Bukan karena didikte, lalu nasionalisme bangkit. Kalau yang terjadi seperti itu, artinya nasionalisme 90 menit. Nasionalisme yang hanya muncul saat pertandingan.

Jika hasil pertandingan tak sesuai harapan, tentu bukan berarti Timnas buruk?

Tidak. Timnas sudah bermain bagus, dan sudah lebih baik. Tapi untuk menjadi yang terbaik, juga tidak bisa instan. Harus ada proses, harus ada jatuh bangun yang banyak juga. Jangan sampai PSSI karena ingin dipuji lalu menggunakan cara instan, lalu kemudian banyak melakukan naturalisasi. Naturalisasi itu kan seperti mengambil pemain yang sudah matang. Padahal menurut saya, kaderisasi itu jauh lebih penting. Apa pun yang terjadi harus diambil hikmahnya. Ada pelajaran yang bisa diambil bersama.

Lalu jangan cari kambing hitam. Misalnya dengan isu laser atau pun serbuk putih yang bisa membuat kaki gatal. Jangan provokatif. Karena hal-hal itu bisa membuat warga menjadi tidak rasional, sehingga memunculkan kembali istilah ‘ganyang Malaysia’. Institusi sosial dan politik jangan memancing di air keruh, karena sepakbola lalu menjadi krisis antar negara.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s